Perjalanan Keagamaan 2026, Pemkot Semarang Fasilitasi 215 Warga dari Berbagai Agama
Foto : Ibadah Umrah
AKTUALDETIK.COM, SEMARANG — Pemerintah Kota Semarang kembali menunjukkan komitmennya dalam memperkuat kehidupan keagamaan dan menjaga kerukunan masyarakat melalui Program Perjalanan Keagamaan 2026. Tahun ini, sebanyak 215 warga dari berbagai latar belakang agama mendapatkan fasilitasi untuk mengikuti perjalanan keagamaan sesuai keyakinan masing-masing.
Program yang dikoordinasikan Bagian Kesejahteraan Rakyat (Kesra) Pemkot Semarang tersebut tidak hanya dimaknai sebagai perjalanan religi, tetapi juga menjadi bagian dari upaya membangun kehidupan masyarakat yang harmonis, toleran, dan saling menghormati di tengah keberagaman Kota Semarang.
Dari 215 peserta, sebanyak 155 warga mendapatkan fasilitasi untuk melaksanakan ibadah umrah. Kemudian 50 peserta mengikuti perjalanan keagamaan umat Nasrani, lima peserta umat Hindu, dan lima peserta umat Buddha.
Khusus peserta ibadah umrah, keberangkatan dijadwalkan pada 30 September 2026. Sementara jadwal dan destinasi perjalanan keagamaan bagi peserta umat Nasrani, Hindu, dan Buddha masih dalam tahap koordinasi bersama tokoh agama serta lembaga terkait.
Koordinasi tersebut dilakukan untuk memastikan seluruh rangkaian perjalanan dapat berlangsung secara tertib, aman, nyaman, dan memberikan pengalaman spiritual yang bermakna bagi para peserta.
Pendiri Forum Silaturahmi Ormas Semarang (FORSOS), sekaligus Ketua Bidang Antar-Lembaga dan Pemerintahan, Piton Prihantono, mengatakan Program Perjalanan Keagamaan merupakan program yang telah berjalan sejak pemerintahan wali kota sebelumnya dan hingga kini masih dilanjutkan.
"Program Perjalanan Keagamaan di Kota Semarang ini merupakan program yang sudah dilaksanakan sejak wali kota sebelumnya dan sekarang tetap dilanjutkan di era Ibu Agustina," ujar Piton kepada aktualdetik di Kantor FORSOS, kawasan Mugas, Semarang, Rabu (26/8/2026).
Menurut Piton, keberlanjutan program tersebut menunjukkan adanya perhatian pemerintah terhadap kehidupan keagamaan masyarakat. Ia berharap masyarakat memahami program tersebut secara utuh, termasuk mekanisme penentuan peserta.
Piton menjelaskan, peserta mengikuti proses pengajuan sebelum kemudian dilakukan seleksi dan verifikasi oleh Bagian Kesra selaku organisasi perangkat daerah (OPD) yang menangani Program Perjalanan Keagamaan.
"Setiap program yang dilaksanakan Bagian Kesra, terkait pemilihan peserta yang berangkat, melalui tahap pengajuan dan verifikasi," katanya.
Ia mengatakan, dalam dua tahun terakhir, kesempatan mengikuti program tersebut semakin diarahkan kepada masyarakat yang aktif dalam kegiatan keagamaan dan memenuhi ketentuan yang ditetapkan.
Di antaranya marbot, takmir masjid, guru agama, serta pengurus lembaga dan organisasi keagamaan.
Piton menyebut, peserta ibadah umrah tahun ini mayoritas berasal dari kalangan marbot masjid dan guru agama Islam di Kota Semarang. Selain itu, terdapat pula pengurus organisasi kemasyarakatan dan lembaga swadaya masyarakat.
"Hampir 70 persen peserta umrah tahun ini adalah marbot masjid. Sisanya ada pengurus ormas, LSM dan lainnya. Semuanya melalui proses pengajuan kemudian verifikasi oleh Bagian Kesra," ujarnya.
Ia berharap informasi mengenai Program Perjalanan Keagamaan dapat disampaikan secara berimbang kepada masyarakat. Menurutnya, setiap informasi terkait program pemerintah sebaiknya merujuk pada data dan mekanisme yang berlaku.
Piton juga mengungkapkan bahwa dirinya pernah menjadi penerima manfaat program tersebut. Ia mengaku mengetahui secara langsung tahapan yang harus dilalui peserta sebelum mendapatkan kesempatan mengikuti perjalanan religi.
"Saya pribadi pernah menerima manfaat dan mendapatkan informasi yang jelas bagaimana proses ini sampai kita berangkat. Mulai pendaftaran, seleksi, verifikasi, semuanya dilakukan oleh Bagian Kesra," ungkapnya.
Sementara itu, salah satu calon peserta umrah, perwakilan GAMAT dan GJL melalui Majelis Gentoku, Amat Priadi, memberikan apresiasi terhadap keberlanjutan Program Perjalanan Keagamaan Pemkot Semarang.
Menurut Amat, program tersebut memberikan kesempatan kepada masyarakat yang memiliki keinginan menjalankan ibadah ke Tanah Suci, khususnya mereka yang selama ini belum memperoleh kesempatan.
"Saya menilai positif karena program ini sudah lama berjalan dan semakin meningkat jumlah pesertanya, terutama bagi masyarakat yang membutuhkan dan ingin ke Baitullah, khususnya menjalankan ibadah umrah," kata Amat.
Ia menyampaikan terima kasih kepada Pemkot Semarang, khususnya Wali Kota Agustina Wilujeng Pramestuti, yang tetap melanjutkan program tersebut dan memberikan kesempatan kepada masyarakat.
"Saya sangat berterima kasih kepada Pemkot, terutama Ibu Wali Kota Semarang, yang telah memberikan kesempatan kepada teman-teman untuk mendapatkan kesempatan berangkat wisata religi tahun ini," ujarnya.
Amat berharap Program Perjalanan Keagamaan dapat terus berlanjut pada tahun-tahun mendatang sehingga semakin banyak warga yang belum mendapatkan kesempatan dapat merasakan manfaat program tersebut.
"Harapan kami, dengan adanya program ini ke depan tetap terus berjalan dan memberikan kesempatan kepada masyarakat yang belum mendapatkan kesempatan," katanya.
Program Perjalanan Keagamaan 2026 diharapkan tidak berhenti pada aspek perjalanan keagamaan. Pengalaman spiritual yang diperoleh peserta selama mengikuti program diharapkan dapat membawa dampak positif ketika mereka kembali ke tengah masyarakat.
Nilai-nilai toleransi, kepedulian, saling menghormati, dan semangat berbagi diharapkan semakin tumbuh dan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Dalam konteks Kota Semarang yang memiliki masyarakat dengan latar belakang agama dan budaya yang beragam, kerukunan antarumat beragama menjadi salah satu modal penting dalam menjaga stabilitas sosial.
Karena itu, fasilitasi perjalanan keagamaan bagi masyarakat dari berbagai agama juga dapat dipandang sebagai bagian dari upaya membangun ruang kebersamaan di tengah keberagaman.
Melalui Program Perjalanan Keagamaan, Pemkot Semarang berupaya memastikan pembangunan kota tidak hanya berorientasi pada infrastruktur dan pertumbuhan ekonomi, tetapi juga menyentuh aspek sosial dan spiritual masyarakat.
Keberlanjutan program tersebut diharapkan mampu memperkuat hubungan antara pemerintah dan masyarakat sekaligus mendorong terciptanya Kota Semarang yang aman, damai, inklusif, dan harmonis.
#M.Taufiq


Komentar Via Facebook :