Melawan Tebalnya Radikalisme

Jenderal "Bubarkan FPI", Seni Pemimpin Militer Berawal Dari Loper Koran

 Jenderal "Bubarkan FPI", Seni Pemimpin Militer Berawal Dari Loper Koran

JAKARTA AKTUALDETIK.COM - Panglima Kodam (Pangdam)Jaya Jayakarta, Mayor Jenderal TNI Dudung Abdurachman yang dimana ssjak Jumat pekan lalu menjadi buah bibir masyarakat dan viral di media sosial karena ketegasan sikapnya dan pada akhirnya institusi yang dipimpinnya menerima ratusan karangan bunga dan dukungan simpati.

“Mbak, titip salam ya buat beliau, saya respect banget sama Pak Dudung, beliau ibarat Batman yang lawan Joker di Gotham City.” Demikian tulis seorang jurnalis, Haryo Adjie Nogo Seno, di laman media sosial.

Berbagai kalangan juga melakukan kunjungan ke kantornya, Makodam Jaya, Cililitan.Baru tiga bulan bertugas sebagai Panglima di Kodam Ibu Kota negara, dilantik pada 6 Agustus 2020, Jenderal asal tanah Pasundan ini sudah larut dalam lima peristiwa yang membutuhkan ketegasan sikapnya.

Dalam urutan waktu, kelima peristiwa itu: penyerangan yang dilakukan seratusan anggota TNI ke banyak fasilitas milik masyarakat di Ciracas pada 30 Agustus 2020; melarang orasi dalam ziarah para purnawirawan TNI ke Taman Makam Pahlawan Utama Kalibata pada 30 September 2020.

Kemudian, bersama Kapolda, memimpin anak buahnya melunakkan massa mahasiswa dan buruh yang berdemo menentang UU Omnibus Law di Jakarta pada 7 Oktober 2020; serta terakhir ketegasannya seminggu lalu pada ormas Front Pembela Islam dan pemimpinnya, Rizieq Shihab.

Kumpulan peristiwa ini, terlebih yang terakhir, mendapat peliputan kuat media massa.Ketegasan yang terpancar dari beberapa pilihan kata dan kalimatnya di depan wartawan sejak minggu lalu itu seperti menjawab dan menguatkan harapan masyarakat umum akan datangnya sikap tegas jajaran pimpinan nasional, khususnya pimpinan militer.

Kata-katanya tidak bersayap. Langsung. Lugas. Semua menuju dua sasaran yang sebelumnya selalu dihindari disebut para pejabat tinggi dalam sikap menentang.

Untuk FPI, ia menyebut: Bubarkan saja. Untuk pimpinannya Habib Rizieq Shihab dan pengikutnya ia menyebut: Menurunkan baliho HRS itu perintah saya. Saya hajar, siapa saja yang berniat mengganggu persatuan dan kedaulatan negara, akan berhadapan dengan saya dan TNI.

Sikap jenderal bintang dua berusia 55 tahun ini segera membuat tersentak, karena sejak beberapa tahun terakhir kita sengaja seperti dibiarkan “sendirian” melawan menebalnya radikalisme. Siapakah Jenderal Dudung, dan apakah ia memang begitu berani dan tegas?

Loper koran jadi Jenderal

Gubernur Akmil, Mayjen Dudung Abdurachman yang waktu itu baru menjabat satu bulan, memercayakan buku memoarnya ditulis dan kemudian diterbitkan oleh Penerbit Buku Kompas.

Pada 17 Desember 2018, tim dari Penerbit Buku Kompas datang ke Museum Akademi Militer di Magelang. Dan menyerahkan beberapa buku Menjadi Taruna Akademi Militer (Penerbit Buku Kompas, 2017) ke Perpustakaan Akmil.

Kepala Penhumas Akmil saat itu, Letkol Inf Zulnalendra, menawarkan menyerahkan buku langsung pada Gubernur Akmil. Tim Kompas menyetujuinya dan dari obrolan itulah proses wawancara buku dengan Pak Dudung dan puluhan narasumber lain, dimulai.

Proses buku ini akhirnya sampai pada ujungnya. Buku memoar kepemimpinan ala Dudung Abdurachman dengan judulnya Loper Koran Jadi Jenderal, Seni Pemimpin Militer-Pengalaman Mayjen TNI Dudung Abdurachman, akan hadir pada pembacanya di awal tahun 2021.

Editor : Ishak

Komentar Via Facebook :